PENGANTAR KEDALAM KITAB EZRA NEHEMIA

 

          Kitab Ezra, Nehemia, dan Ester ditulis dalam konteks sejarah yang sama, yaitu setelah masa pembuangan bangsa Israel di Babel. Setelah raja Kores dari Persia mengizinkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem

          Dalam Tanakh kuno, Ezra dan Nehemia dianggap satu kitab yang disebut Kitab Ezra. Sedang Josephus dalam Againts Apiuon 1.8 dan Jerome dalam Preface to the Commentary on Galatians juga menganggap kitab Ezra dan Nehemia itu satu unit. Tanakh modern membagi dua yaitu : Kitab Ezra dan Kitab Nehemia.

 

  • I.      KITAB EZRA
  • A.    SEJARAH KITAB EZRA

Kitab Ezra merupakan salah satu bagian dari kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama yang mencatat kembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babel dan pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem. Peristiwa ini terjadi setelah sekitar 70 tahun masa pembuangan, tepatnya setelah Persia di bawah pimpinan Koresh Agung yang menaklukkan Babel pada tahun 539 SM. Kitab ini mencakup dua periode utama dalam sejarah bangsa Yahudi yaitu  kembalinya bangsa Israel di bawah pimpinan Zerubabel dan Ezra.

1)    Pembuangan ke Babel

Pada tahun 586 SM, Yerusalem dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar dari Babilonia, dan bangsa Yahudi dibawa ke dalam pembuangan. Ini menandai permulaan masa pembuangan ke Babel. Selama periode ini, bangsa Yahudi kehilangan tanah air dan Bait Suci mereka. Kitab Ezra dimulai setelah berakhirnya masa pembuangan ini, ketika Persia berhasil menguasai Babel dan memungkinkan bangsa Yahudi untuk kembali ke tanah mereka.[1]

 2)    Dekrit Koresh

Pada tahun 538 SM, Koresh Agung (Cyrus the Great), Raja Persia, mengeluarkan dekrit yang mengizinkan orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka dan membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Peristiwa ini dianggap sebagai penggenapan nubuat yang diucapkan oleh nabi-nabi seperti Yesaya dan Yeremia. Koresh memberikan dukungan penuh untuk pembangunan kembali Yerusalem dan Bait Suci, bahkan memberikan bantuan logistik untuk proyek tersebut. Ini menandai dimulainya kembali kehidupan religius bangsa Yahudi di tanah air mereka setelah lama berada di pembuangan .[2]

3)    Pembangunan Kembali Bait Suci

Gelombang pertama kembalinya bangsa Yahudi dipimpin oleh Zerubabel pada tahun 536 SM. Mereka segera memulai proses pembangunan kembali Bait Suci yang telah dihancurkan oleh Babel. Meskipun mereka menghadapi banyak tantangan, baik dari dalam bangsa mereka sendiri maupun dari musuh-musuh di sekitar mereka, akhirnya Bait Suci selesai dibangun pada tahun 516 SM, sekitar 20 tahun setelah dekrit Koresh .[3]

4)    Kepemimpinan Ezra

Lebih dari 50 tahun setelah pembangunan kembali Bait Suci, Ezra, seorang imam dan ahli Taurat, memimpin gelombang kedua orang Yahudi yang kembali ke Yerusalem pada tahun 458 SM. Ezra memiliki misi untuk memulihkan kehidupan religius bangsa Israel dan memastikan bahwa mereka hidup sesuai dengan hukum Taurat. Ezra dikenal karena reformasi sosial dan agamanya, termasuk menentang pernikahan campuran dengan bangsa-bangsa di sekitarnya. Tindakan Ezra ini bertujuan untuk menjaga kemurnian bangsa Yahudi dan memperkuat identitas keagamaan mereka .[4]

5)    Signifikansi Kitab Ezra

Kitab Ezra penting dalam sejarah Israel karena menceritakan periode kritis dalam pemulihan bangsa Yahudi setelah pembuangan. Kitab ini menekankan pentingnya kesetiaan kepada Allah, penegakan kembali hukum Taurat, dan komitmen untuk memulihkan identitas religius bangsa. Ezra menjadi simbol pemulihan moral dan spiritual bangsa Yahudi setelah masa kehancuran dan diaspora yang panjang .[5]

 

B.    STATISTIK KITAB EZRA ([6]) ([7])

Berikut adalah statistik penting yang berkaitan dengan Kitab Ezra, dengan beberapa referensi dari buku-buku dalam terjemahan bahasa Indonesia:

1)    Penulis Tradisional:

Menurut tradisi Yahudi, Kitab Ezra ditulis oleh Ezra, seorang imam dan ahli Taurat. Sebagian besar kitab ini adalah narasi sejarah, tetapi juga memuat kutipan langsung dari berbagai dokumen resmi.

2)    Jumlah Pasal:

Kitab Ezra terdiri dari 10 pasal yang mencakup peristiwa kembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babel serta pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem.

3)    Tokoh Utama:

o   Koresh Agung (Cyrus the Great): Raja Persia yang mengeluarkan dekrit untuk mengizinkan bangsa Yahudi kembali ke Yerusalem (Ezra 1:1-4).

o   Zerubabel: Pemimpin pertama yang memimpin bangsa Yahudi kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci (Ezra 2:2).

o   Ezra: Pemimpin rohani dan ahli Taurat yang memimpin gelombang kedua dari orang-orang Yahudi yang kembali ke Yerusalem (Ezra 7:1-10).

4)    Kejadian Penting:

o   Dekrit Koresh: Pada tahun pertama pemerintahannya (sekitar 538 SM), Koresh Agung mengizinkan bangsa Yahudi kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:1-4).

o   Pembangunan Bait Suci: Proses pembangunan ini menghadapi banyak rintangan dan penundaan, tetapi akhirnya selesai pada tahun 516 SM (Ezra 6:15).

o   Reformasi Ezra: Ezra melakukan reformasi penting dengan mengajarkan kembali hukum Taurat kepada bangsa Israel dan mengatasi masalah pernikahan campuran dengan bangsa-bangsa non-Yahudi (Ezra 9-10).

5)     Kutipan Penting:

Ezra 1:1-2: "Pada tahun pertama zaman Koresh, raja Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresh, raja Persia, sehingga ia menyuruh orang mengumumkan di seluruh kerajaannya dan juga menulis surat, yang bunyinya: ‘Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit, dan Ia telah memerintahkan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda.’”

6)     Waktu Penulisan:

Kitab Ezra diyakini ditulis pada pertengahan abad ke-5 SM, tak lama setelah peristiwa-peristiwa yang diceritakan di dalamnya terjadi. Walaupun tidak tercantum, namun di yakini bahwa penulis Kita Ezra adalah Ezra sendiri.  

7)     Periode Sejarah yang Dicakup:

Kitab Ezra mencakup periode sekitar 80 tahun, dari dekrit Koresh pada tahun 538 SM hingga reformasi Ezra sekitar 458 SM.

8)     Bahasa:

Kitab Ezra ditulis dalam dua bahasa: Ibrani dan Aram. Pasal 4:8 hingga 6:18 dan 7:12-26 ditulis dalam bahasa Aram, bahasa resmi Persia pada saat itu.

9)     Hubungan dengan Kitab Nehemia:

Ezra dan Nehemia sering kali dianggap sebagai satu karya utuh karena mencatat kisah yang berurutan tentang pembangunan kembali Yerusalem dan restorasi bangsa Israel.



[1] Yohanes Kurniawan, Sejarah Alkitab Ibrani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 203.

[2] Daud Soesilo, Perjanjian Lama: Sejarah dan Teologi (Bandung: Kalam Hidup, 2010), 158.

[3] F. Charles Fensham, Kitab Ezra dan Nehemia (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1982), 45.

[4] John H. Hayes, Sejarah Israel (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 320.

[5] R. E. Clements, Sejarah Pembaruan Bangsa Israel (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 214.

[6] Charles Fensham, Ezra dan Nehemia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 45-50.

[7] John Bright, Sejarah Israel (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 364.

Komentar